FIQH HAJI (Suatu Tinjauan Historis dan Filosofis)

Dulsukmi Kasim

Abstract


Nawacita ibadah haji adalah meraih kemabruran yang salah satu indikatornya adalah terjadinya peningkatan kualitas moral, spiritual,dan sosial dalam diri jemaah setelah kembali ke tanah airnya. Untuk mewujudkan hal itu, selain penguasaan tata cara haji yang baik, tidak kalah pentingnya untuk diwujudkan dalam diri setiap jemaah adalah memahami aspek historis dan nilai filosofis dibalik pensyariatannya. Secara historis,informasi haji didapat dari QS. Ali Imran/3: 97 yang menyatakan Ka’bah sebagai rumah yang diletakkan/ditempatkan Allah di muka bumi untuk manusia. Meski ulama tidak seragam menetapkan awal mula penempatannya, namun diyakini bahwa sebelum diutusnya Adam para malaikat bumi telah beribadah di tempat itu selama 2000 tahun. Kemudian Allah memberi Adam sebuah kemah yang berasal dari surga dan diletakkan di tempat bangunan Ka’bah itu. Sepeninggal Adam, anak-anaknya mulai membangun Ka’bahitu dari tanah dan batu. Akibat banjir bah dan topan di masa Nabi Nuh as., bangunan itu roboh dan tidak diketahui lagi posisinya. Ketika Nabi Ibrahim as. diutus sebagai Rasul, Allah memberi petunjuk kepadanya untuk membawa keluarganya ke sebuah lembah tandus dan kering kemudian mereka tinggal di sana dan diperintahkan untuk membangun Baitullah persis di tempat yang pernah dibanguni oleh anak-anak Adam. Selanjutnya, Allah memerintahkan Ibrahim agar memanggil orang untuk mendatangi tempat itu guna melaksanakan ibadah yang kemudian disebut dengan ibadah haji. Bagi umat Islam, syariat hajiini mulai diberlakukan pada tahun ke-9 Hijriyah.Ditandai dengan turunnya QS. Ali Imran/3: 97. Namun, karena ayat ini turun setelah lewat waktu haji, maka Nabi saw. baru menjalankannya tahun ke-10 Hijriyah.Secara filosofis terdapat 4 rahasia yang terkandung dibalik pelaksanaan ibadah haji. Pertama, haji adalah reuni besar umat Islam sedunia untuk mengingatkan kondisi para Nabi, shiddiqin, para syuhada, dan orang shaleh dari masa ke masa berkumpul di tempat itu untuk mengagungkan syiar-syiar Allah dengan penuh kerendahan diri dan mengharap berbagai kebaikan dan ampunan- Nya. Kedua, Baitullah adalah tempat yang paling berhak untuk didatangi untuk mencari berkah sekaligus sebagai media mendekatkan diri kepadaNya. Ketiga, Ibadah haji adalah ajang penyucian jiwa seorang hamba di tempat yang terus menerus diagungkan oleh orang-orang shaleh dengan berzikir kepada Allah.Keempat, ibadah haji sejatinya adalah ajang evaluasi untuk memilah orang taat dari orang munafiq.


Keywords


Haji; Ka'bah; Baitullah

Full Text:

PDF

References


Abi al-Hasan Ali bin Ahmad al-Wahidiy, Asbab> al-Nuzu>l, Beirut: ‘Alam al-Kutub, t.th.

Abu Walid Muhammad bin Abdillah, Akhbar Makkah, Jilid. I, Madrid: Dar al- Andalus, t.th.

Ahmad al-Shawiy, al-Hawi ‘Ala al-Jalalain, Jilid. I, t.tp: al-Babi al-Halabiy.

Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya Edisi Tajwid (Bandung: Syaamil Cipta Media, 2002.

Fathiyyah al-Nadiy dan Wathfah Muhammad Isa, Quthuf min Fiqh al-Kitab, Cairo: Universitas al-Azhar, 1999.

Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, Jilid. I, Cet. I; Beirut: Dar al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, 1997.

Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif. Maktabah Syamilah al-Isdar al-Tsalits. al-Ja’fi,Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al-Bukhari.Shahi>h al-Bukha>ri>, Juz. 1. Cet. I; Beirut: Dar Thauq al-Najah, 1422 H.

Kadar M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam; Tafsir Tematik Ayat-Ayat Hukum, Cet. I; Jakarta: Amzah, 2011.

al-Madani,Malik bin Anas bin Malik.al-Muwattha’, Juz. 3, Cet. I; Abu Dabi: Muassasah Zaid bin Sulthan Ali Nahyan al-Khairiyyah wal Insaniyyah, 2004.

M. Quraish Shihab, Lentera Hati, Jakarta: Lentera Hati, 2013, h. 199.

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Cet. I; Bandung: Mizan, 2013.

M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Vol. I, Cet. IV; Jakarta: Lentera Hati, 2011.

Muhammad Bakr Ismail, al-Fiqh al-Wadhih min al-Kitab wa al-Sunnah ‘ala al- Madzahib al-Arba’ah, Juz. 1, Cet. II; Cairo: Dar al-Manar, 1997.

al-Naisaburi,Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al Qusyairi.Shahi>h Muslim, Juz. 1. Beirut: Da>r Ihya>’ al-Tura>ts al-Arabi>, t.th.

al-Qazwini,Ibnu Majah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid.Sunan Ibnu Majah, Juz. 2, Mesir: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, t.th.

Sulaiman an-Nuri dan Abas Maliki, Ibanatul Ahkam, Juz. 2, Kairo: Syirkatussamarli, 1969.

Syekh Faishal bin Abd. Azis Ali Mubarak, Nailu al-Authar, diterjemahkan oleh Muammal Hamidy, dkk dengan judul “Nailul Authar”, Jilid 3, Surabaya: Bina Ilmu. al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Juz. 2, Cet. II; Cairo: al-Fathu li al-I’lam al- ‘Arabiy, 1999.

al-Tirmidziy, Sunan at-Tirmizi >, Jilid. IV. Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, Juz. 3, Cet. IV; Damaskus: Dar al-Fikr, 2002


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Al-'Adl

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

INDEXED:

 

 

  download

  download

Creative Commons License
All publications by Al-'Adl This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.