NILAI EDUKATIF DALAM TRADISI MOLONTALO

Muh. Arif, Awin Y. Lagarusu

Abstract


Artikel ini menguraikan tentang molonthalo/tondalo, tradisi generasi yang dipegang oleh komunitas Gorontalo, molonthalo/tondalo tradisi upacara ketika kehamilan isteri telah mencapai 7-8 bulan masa kehamilan, dan ini hanya dilakukan selama kehamilan pertama. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk mengetahui kedudukan bayi di dalam rahim, tetapi juga sebagai isyarat bahwa isteri itu sungguh sakral. Peringatan bahwa tidak ada kehamilan sebelum menikah dan bayi yang dikandung adalah hasil dari perkawinan hukum, serta doa dan terima kasih memberikan akan terus diikuti oleh keturunan keluarga. Temuan penelitian menunjukkan bahwa prosesi molonthalo di Gorontalo Utara umumnya mirip dengan prosesi di daerah lain di Provinsi Gorontalo.  Ini terdiri dari tiga fase, yaitu: pertama, perbaikan hal yang diperlukan dalam molonthalo, menerapkan bentuk perangkat tradisional dan objek budaya, kedua, pelaksanaan Molonthalo, dan ketiga, penutupan yang ditandai dengan doa dan disteribusi toyopo dan tombulu. Namun, jika dilihat dari elemennya, maka prosesi molonthalo harus memenuhi lima unsur, yaitu: pertama, unsur fardy (pribadi), kedua, unsur makani (tempat), ketiga, unsur zamani (waktu), keempat, unsur adawati (set peralatan), kelima, unsur lafadzi  (lafadz). Nilai pendidikan Islam yang ada pada tradisi molonthalo, terdiri dari dua nilai, yaitu nilai Ilahiyah dan nilai insaniyah. Nilai ilahiyah terdiri dari, a) nilai tauhid, yang terdiri dari: pertama, dikr, kedua, memenuhi perintah Allah dalam bentuk menjaga sifat manusia, ketiga, menghindari larangan Allah, dan keempat, berterima kasih kepada Tuhan. b) nilai ibadah terdiri dari: pertama, shalat kedua, membaca ayat-ayat al-Qur'an, dan ketiga, Sholawat, dan c) nilai Muamalah yang mengandung sikap/saling menolong. Adapun nilai insaniyah, itu terdiri dari a) nilai etika di mana dalam bentuk menjaga kehormatan. Ini mencakup pertama, menghindari karakteristik tercela kedua, suami rasa tanggung jawab dan toleransi, ketiga, suami tumbuh kasih sayang untuk isteri, keempat, posisi suami sebagai pemimpin. Yang kedua adalah b) nilai estetika. Ini menghasilkan dalam bentuk nilai keindahan pada pakaian tradisional yang digunakan, objek adat yang ganjil dan berdering segitiga c) nilai sosial, yang mencakup sikap yang baik dan perilaku dalam istilah, pertama, memberikan sedekah dan saling berbagi kedua, tumbuh dan memperkuat hubungan keluarga, dan ketiga, tumbuh sikap saling kerjasama dan silaturrahim.

 

This article elaborates molonthalo/tondalo, a tradition for generations that held by Gorontalo community The molonthalo/tondalo tradition the ceremony when the wife’s pregnancy has reached 7-8 months of pregnancy period, and this will only be conducted during the first gestation. The tradition was not only purposively aimed of knowing the position of the baby in the womb, but also as intimation that the wife’s truly sacred. The admonition that no pregnancy before marriage and the baby being conceived was the result of the legal marriage, as well as the prayer and thanks giving will be continue to be followed by the family descendants. Research finding shows that, molonthalo procession in North Gorontalo was generally similar to the procession in other region in Gorontalo Province.  It consisted of three phases, namely: First, reparing things needed in molonthalo, implementing the form traditional device and culture objects, Second, Molonthalo Implementation, and Third, closing that marked with prayer and disteribution toyopo and tombulu. However, if it was viewed from its elements, then molonthalo procession must fulfill five elements, namely: First, Fardy element (personal), Second, makani element (place), Third, zamani element (time), Fourth, Adawati element (sets of equipment), Fifth, lafadzi element (lafadz). The values of Islamic education that exist on molonthalo tradition, consist of two values, those were Ilahiyah value and Insaniyah value. Ilahiyah value consist of, a) Tauhid value, that consist of: First, dikr, Second, fulfill Allah commands in the form of keeping human nature, Third, avoid Allah’s prohibition, and Fourth, thank god. b) Worship value consists of: First prayer, Second read verses of the holy Qur’an, and Third sholawat, and c) Muamalah value that contain attitude/ helping each other. As for insaniyah values, it consist of a) ethic value in which in form of keeping the honor. It covers First, avoiding the despicable characteristics Second, husband responsibility sense and tolerance, Third, growing husband’s affection to wife, Fourth, positioning husband as a leader. The second one was b) aesthetics value. It yielded in the form of the value of beauty on traditional clothing being used, the custom objects that odd number, and rang triangle c) sosial value, which include good attitude and behavior in term of, First, give alms and mutual sharing Second, grow and strengthen of family relationship, and Third, grow attitude mutual cooperation and frienship.


Keywords


Nilai, Pendidikan Islam, Tradisi, dan Molonthalo

References


Abdullah, M. Yatimin. (2000). Studi Islam Kontemporer. Cet. 1; Jakarta: Amzah.

Ani, Rostiyati. dkk., (1995). Fungsi Upacara Tradisional, Bagi Masyarakat Pendukungnya Masa Kini. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Asmin Sahir, (2016). Bidan Kampung, “Wawancara” di Kec. Atinggola, tanggal 20 September.

Baruadi, Karmin. (2012). “Sendi Adat dan Eksistensi Sastra; Pengaruh Islam dalam Nuansa Buaya Lokal Gorontalo”, Jurnal el Harakah Vol. 14 No. 2.

Bruinessen, Martin Van. (1992). Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia. Bandung: Mizan.

Burga, Muhamad Alqadri. (2019). Kajian Kritis tentang Akulturasi Islam dan Budaya Lokal, Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam, 5(1).

Daulima, Farha. (2006). Ragam Upacara Tradisional Daerah Gorontalo. Gorontalo: Galeri Budaya Daerah Mbu’I Bungale.

al-Faruqi, Ismail Raji. (1982). Tauhid. Bandung: Pustaka.

Ghazali, Abd. Moqsith. Argumen Pluralisme Agama. Jakarta: Kata Kita, 2009.

Hamdani, B.M. DZ. (2001). Pendidikan Ketuhanan dalam Islam. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Hasan, Tarua. (2016). Qadhi Kabupaten Gorontalo Utara, “Wawancara” di Kec. Kwandang, tanggal 15 September.

Idris HD. Piola, (2016). Imam/Pegawai Syara’ “Wawancara” di Kec. Kwandang, 29 September.

Kau, Sofyan A.P. (2013). Islam, Tradisi dan Kearifan Lokal Gorontalo. Gorontalo: Sultan Amai Press.

Lamatenggo, Nurdin. (2016). Pemangku Adat, “Wawancara” di Kec. Sumalata Kab. Gorontalo Utara, tanggal 17 September.

Moeliono, Anton M. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Muhaimin dan Abdul Mujib, (1993). Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya. Bandung: Trigenda Karya.

Mulyati, Sri. (2004). Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. Jakarta: Pustaka Prenada Media.

Munawwir, Ahmad Warson. (1984). Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: Pustaka Progresif.

Mustakimah, (2014). Akulturasi Islam dengan Budaya Lokal dalam Tradisi Molonthalo di Gorontalo. Jurnal Diskursus Islam, 2(2).

Mustofa, dkk., (2005). Tauhid. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga.

Nusa,Tune. (2016). Pegawai Syara/Khatibi, “Wawancara” di Kec. Kwandang, tanggal 06 Oktober.

Olii, Oliya. (2016). Bidan Kampung, “Wawancara” di Kec. Anggrek, tanggal 25 Oktober.

Pulumoduyo, Harto. (2016). Baate (Pemangku Adat) “Wawancara” di Kec. Atinggola, 20 September.

Ranjabar, Jacobus. (2014). Sistem Sosial Budaya Indonesia. Bandung: Alfabeta.

Rahman, M. Gazali. (2012). Tradisi Molonthalo di Gorontalo. Jurnal Al-Ulum Volume. 12(2).

Soekanto, Soejono. (1986). Sosiologi suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Suaedy, Ahmad. (2010). “Gerakan Islam dan HAM di Tengah Kuasa Neoliberalisme” from http: //www.syarikat.org/article/gerakan-islam-dan-ham-di-tengah-kuasa- neo-liberalisme Retrieved 4 Oktober 2011.

Surajiyo, (2005). Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: Bumi Aksara.

Taruwa, Hasan. (2016). Qadhi Kabupaten Gorontalo Utara, “Wawancara” di Kec. Kwandang, tanggal 15 September.

Tondalo/Molondalo, pada beberapa daerah seperti Manado dikenal dengan istilah “Raba Puru”, Jawa dengan istilah “Mitoni/Tingkeban, Nujuh Bulanan” Aceh “Seunujoh” Kalimantan, Mandi Bunting.

Upacara Molonthalo pada Masyarakat Gorontalo, (2019). https://uun-halimah.blogspot.com/2011/01/upacara-molonthalo-pada-masyarakat.html, diakses 11 Desember.

Walahe, B., FTH Musa, B. Amin, (2015). Eksistensi Pelaksanaan Adat Molonthalo (Suatu Penelitian pada Masyarakat Kel. Dulalowo Timur Kec. Kota Tengah Kota Gorontalo.

Waluya, Bagja. (2007). Sosiologi Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: Seria Purna Inves.




DOI: http://dx.doi.org/10.31332/zjpi.v5i2.1533

Refbacks

  • There are currently no refbacks.

Comments on this article